Sabtu, 27 Juni 2009

JetAudio


Bosen dengan windows media player? Mau coba media player yang baru? Mungkin yang satu ini bisa buat Anda gx bosen dengan media player yang gitu2 aja. Adalah JetAudio Basic yang merupakan salah satu media player selain windows media player yang dapat memutar musik dan video. Jet audio ini bukan merupakan product keluaran dari windows.

Selain dapat memutar file musik dan video seperti WAV, MP3, MP3Pro, OGG, WMA, MPEG, AVI, WMV, MIDI, RM dan lain lain, Jet Audio juga mempunyai fasilitas yang dapat memburn CD dan mengconvert dari satu format ke format yang lain.

Buat yang mau download, silahkan download link di bawah ini.

Download.com

Jumat, 26 Juni 2009

AS Luncurkan Ulang Alik Militer Tahun 2010


WASHINGTON - Angkatan udara Amerika Serikat, US Air Force (USAF) mengungkapkan rencana mereka untuk mengorbitkan sebuah pesawat ulang alik militer bernama X-37B tahun depan.

"Setelah berulang kali tertunda, proyek ini akhirnya bisa segera diwujudkan. X-37B dipastikan akan meluncur pada Januari 2010," kata Kapten Elizabeth Aptekar dari USAF.

Pesawat bersayap yang terlipat di dalam selubung roket Atlas V Evolved Expendable Launch Vehicle (EELV) itu akan meluncur dari Cape Canaveral, Florida. X-37B akan mengitari bumi kemudian mendarat tanpa panduan pilot di California.

"Pesawat kini telah siap untuk proses pengapalan dan X-37B siap menjelalajah. Persiapan sebelum peluncuran akan memakan waktu selama 60 hari," kata Aptekar seperti yang dikutip dari Space.com, Minggu (7/6/2009).

Sebelumnya, X-37B yang memiliki panjang badan pesawat 27,5 kaki dan panjang sayap 15 kaki serta bobot seberat 5 ton ini digunakan untuk mengisi persediaan di wahana antariksa. Namun pesawat tersebut kemudian berganti fungsinya menjadi roket Delta.

Kemudian pada Juli 1999, Boeing Phantom Works mulai mengembangkan X-37 melalui sebuah kontrak kerja sama dengan NASA. Kontrak tersebut termasuk peralatan uji pendaratan X-37 yang dirancang khusus untuk pesawat antariksa.

Peluncuran X-37B memiliki mini untuk menguji coba segala kemungkinan melalui eksperimen dan teknologi. Termasuk menguji sistem proteksi termal dengan suhu tinggi yang tahan lama, mudah disimpan, bahan bakar cair yang tidak beracun serta model aerodinamis terbaru.

"Semua itu sudah disesuaikan unutk pesawat antariksa bekas pakai di masa yang akan datang," tandas Aptekar.

Sumber : techno.okezone

Selasa, 23 Juni 2009

Bulan Makin Menjauh Dari Bumi?


Pada suatu masa, jutaan tahun ke depan keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang. Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.

Bukan tanpa alasan Neil Armstrong—manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan—meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.

Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.

Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.

Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).

Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.


Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?

Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.

Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.

Stabilitas Iklim

Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.

”Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,” ucapnya kepada Science Channel.

Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.

Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.

Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan.

”Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,” ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.

Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.

Misi Terbaru NASA

Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).

Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!

Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, ”Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.”

Sumber: apakabardunia